TENTANG BID’AH - Bag1 - (dari Kitab Al-Mafahim Sayyid Al-Maliki Al-Hassani)

SEPUTAR BID’AH

Diantara umat islam yang mengaku ulama atau pakar ajaran Islam, ada orang yang menisbatkan dirinya kepada sunnah ulama salaf yang saleh. Mereka mengaku sebagai pengikut ulama salaf juga mengaku Ahlu Sunnah wal Jama`ah. Dengan gagah berani dan penuh kebanggaan, mereka mengajak umat islam untuk mengikuti jejak langkah atau sunnah para ulama salaf yang saleh dengan cara-cara primitif, penuh kebodohan, fanatisme buta, dengan pemahaman yang dangkal dan dengan dada (pengertian ) yang sempit.

Bahkan, mereka juga berani memerangi setiap sesuatu yang baru dan mengingkarisetiap penemuan baru yang baik dan berfaedah hanya karena dinilai (oleh pemahaman mereka yang sempit) sebagai bid’ah. Dalam pemahaman mereka, tidak ada sesuatu yang bid’ah kecuali pasti menyesatkan. Mereka tidak mau melihat adanya realitas yang menuntut adanya perbedaan antara bid’ah hasanah (yang baik) dan bid’ah dlolalah (yang sesat). Padahal ruh Islam menghendaki adanya pembedaan antara berbagai bid’ah yang ada. Semestinya umat Islam mengakui bahwa bid’ah itu ada yang baik dan ada yang sesat atau menyesatkan. Yang demikian itulah yang menjadi tuntutan akal yang cerdas dan pemahaman atau pandangan yang cemerlang.

Itulah yang di – tahkiq atau diakui kebenarannya setelah dilakukan penelitian oleh para ulama ushul (fiqh) dari kalangan ularna salaf yang saleh, seperti Imam Al-’Izz bin Abdussalam, Imam Nawawi, Iman Suyuthi, Imamn Jalaluddin AI-Mahally, dan Ibnu Hajar — Rahimahulloh Ta’ala

Hadits-hadits Nabi Muhammad Saw – untuk menghindari kesalah-pahaman – perlu ditafsiri sebagiannya dengan sebagian hadits yang lain, dan diperjelas kesempurnaan arahnya dengan hadits-hadits lainnya. Umat Islam perlu memahami sabda Nabi Muhammad Saw itu dengan pemahaman yang cermat dan komprehensif, sempurna dan menyeluruh. Jangan sekali-kali memahaminya secara parsial atau sepotong-sepotong. Ia juga mesti dipahami dengan ruh Islam dan sesuai dengan pendapat para ulama salaf saleh.

Oleh karena itu, kita menemukan banyak hadits yang untuk memahaminya secara benar diperlukan kecermelangan akal, disertai hati yang sensitif yang pemaknaan dan pemahamannya didasarkan pada “lautan syariat Islam” sambil memperhatikan kondisi dan situasi umat Islam dan berbagai kebutuhannya. Situasi dan kondisi umat memang harus diselaras-kan dengan batasan-batasan kaidah Islam dan teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, tidak boleh keluar dari itu.


Diantara contoh hadits yang perlu dipahami secara benar dan komprehensif, proposional dan sempurna adalah sabda Nabi Muhammad Saw berikut

Setiap bi’ah adalah dlolalah “menyesatkan”.

Untuk memahami hadits seperti itu, kita mesti mengatakan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah dalam hadits tersebut adalah bid’ah sayyi’ah. Yaitu bid’ah yang salah dan menyesatkan. Bid’ah yang dimaksud dengan sabda Nabi Muhammad Saw tersebut adalah suatu peribadahan yang tidak didasarkan pada ajaran pokok agama Islam.

Pendekatan yang seperti itu pula yang harus digunakan untuk memahami berbagai hadits, seperti hadits berikut (Yg artinya - Wallohu wa Rasuluhu a’lam):

Tidak ada shalat – yang sempurna- bagi tetangga masjid kecuali (yang dilakukan) di dalam masjid.

Hadits diatas, mekipun mengandung “pembatasan” (hashr), yaitu menafikan (meniadakan) shalat dari tetangga masjid, tetapi kandungan umum dari berbagai hadits lain mengenai shalat mengisyaratkan bahwa hadits tersebut perlu dipahami dengan suatu kayyid atau pengikat. Maka pengertiannya, “tidak ada shalat (fardu) yang sempurna bagi tetangga masjid, kecuali di masjid.”

Begitu pula berkenaan dengan hadits Rasulullah Saw di bawah ini (Yg artinya - Wallohu wa Rasuluhu a’lam):

Tidak ada shalat dengan (tersedianya) makanan.

Maksudnya, tidak ada shalat yang sempurna jika makanan telah tersedia. Seperti itu pula pendekatan yang harus kita gunakan untuk memahami hadits berikut (Yg artinya - Wallohu wa Rasuluhu a’lam):

“Tidak beriman (dengan keimanan sempurna) salah seorang di antaramu kecuali ia mencintai sesuatu untuk saudaranya seperti ia mencintainya untuk (kepentingan) dirinya”

Begitu juga hadits berikut (Yg artinya - Wallohu wa Rasuluhu a’lam):

”Demi Allah, tidak beriman; Demi Allah, tidak beriman; Demi Allah, tidak beriman – dengan keimanan yang sempuma.” Ada yang bertanya: ”Siapakah – yang tidak sempurna keimananya itu – wahai Rasulullah?”


Beliau bersabda: ”Orang yang tidak menyelamatkan tetangganya dari gangguannya”

“Tidak masuk surga pengadu domba.”

“Tidak masuk surga pemutus tali persaudaraan. Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya.”

Menurut para ulama, yang dimaksud tidak masuk surga itu adalah tidak masuk secara baik dan utama, atau tidak masuk surga jika menganggap halal atau boleh melakukan perbuatan munkar seperti itu. Jadi, para ulama – atau pakar – itu tidak memahami hadits menurut lahirnya; mereka memahaminya melalui takwil.

Maka harus seperti itulah memahami hadits tentang bid’ah, Keumuman kandungan berbagai hadits serta kondisi dan sikap para sahabat mengesankan bahwa yang dimaksud dengan bid’ah dalam hadits tersebut hanyalah bid’ah sayyi’ah (bid’ah yang jelas-jelas tidak ada landasan pokok dari ajaran Islam); tidak semua bid’ah.

Cobalah kita perhatikan hadits-hadits berikut ini (Yg artinya - Wallohu wa Rasuluhu a’lam):


Siapa yang menetapkan – atau melakukan – suatu kebiasaan (Sunnah) yang baik, maka ia berhak mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat ….

Henduklah kamu sekalian (mengikuti) Sunnahku dan Sunnah para kholifah yang cerdik pandai dan mendapat petunjuk…

Perhatikan juga perkataan Umar bin Khathab r.a. mengenai salat tarawih: ”Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” (Yakni, melakukan salat tarawih dengan berjamaah - penrj). Hanya Allah Yang Lebih Mengetahui yang sebenarnya.”


Fasal tentang Bid'ah (1) Versi Nu.or.id
Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
“Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
“Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)

Baca Kelanjutanya pada posting Pasal Bid'ah Bagian 2:
http://www.mr-mung.com/2008/03/tentang-bidah-bag2-dari-kitab-al.html

Posting Komentar

Sungguh bodoh anda mengatakan orang lain bodoh. Penjelasan anda (kitab) sungguh tidak ilmiah. Menafsirkan hadist dengan menggunakan pemahaman sendiri.

Tujuannya baik,harus kita hargai,ballighu anni walau ayah...qulil haqqu walau kana murroo...tidak setuju ok ok saja,semoga lain kali pembahasannya lebih "dalam" lagi...

Thx atas komentarnya... jangan lupa masih banyak hadits yang blm anda pelajari / bahkan belum pernah menemuinya, termasuk saya sendiri juga gitu... ya semoga saja kita termasuk golongan orang yang selamat dan terhindar dari fitnah. mari kita belajar dan terus belajar, agar wawasa n dan ilmu kita bertambah, dan tentunya diharapkan bisa bertindak bijaksanan dalam menghadapi permasalahan yang ada.

mr mung terima kasih postingnya..@akhi: ini bukan ijtihad si penulis tapi dari ulama Makkah Sayyid Al Maliki..dan kata "bodoh" dalam pembukaan artikel di sini sebenarnya mengarah ke "salah paham" bukan berarti menganggap orang lain lebih bodoh.

@akhi said from khoiron (khoir.phy@gmail.com):
baiknya antum baca2 lagi pemahaman2 ulama ahlussunnah, dari kurun salaf hingga khalaf. dari imam syafi'i yg berkata "albid'atu bid'ataini, mahmuudatun wa madzmuumatun. famaa waafaqossunnh fahua mahmuudun, dst. atau almuhdastatu dhorbaani, dst. atw pmahamanya imam nawawi addamsyiqi ra, imam suyuthi, izzuddin dn ulama2 lain ra...

allohumma arinal haqqo haqqo warzuqnattibaa'ah, wa arinal baathila baathila warzuqnajtinaabah

wallohu a'lam.

biar antu menilai saudara antum secara tidak haqq, hati2 dengan prasangka antum....

atau mungkin antum perlu membaca buku "pemahaman2 yang mesti diluruskan, mafahim yajiibu an tusahha" sayyid alawi almaliki alhasani. supaya hilang prasangka2 buruk sesama ummat Muhammad ini...

saya sangat yakin antum bukanlah orang yang memahami ilmu hadits

dari hadits2 yang tertera di atas sepertinya tidak bisa langsung dipercaya kebenarannya, karena tidak disebutkan hadits nomor berapa dan dar rujukan siapa? trus keshahihannya tidak dijelaskan, bisa saja hadits itu PALSU!!!!

Sayang penulis komentar yang memiliki pemikiran lain tidak mau menunjukan jati dirinya. padahal pemikiran dan idenya bagus2 lho...
kalau bahasa kerenya apa ya? orang yg gk berani menunjukan siapa dirinya, tapi sukanya banyak ngomong..?

La adriy

[facebook][blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget

Label