Juni 2016

Hati-Hati... Guru yang sudah sertifikasi ngajarnya bukan mapelnya sesuai kode mapel sertifikasi, maka siap-siap tidak akan VALID didalam DAPODIK, resiko bagi guru tentu akan bermasalah dalam penerimaan tunjangan profesinya, SKTP tidak keluar-keluar, teman guru yang lain sudah menikmati tunjangan profesi, guru yang bermasalah di kode mapelnya tentu akan pusing sendiri, karena akan direpotkan mengurus sendiri secara manual.

PERHATIKAN TABEL DI BAWAH INI:
Kewenangan Mengajar Guru Berdasarkan Kurikulum 2013, sesuai informasi dari Kepala Badan PSDMPK dan PMP No: 29277/J/LL/2014, tanggal 25 Nopember 2014: Lengkapnya silahkan download disini.

Repotnya birokrasi Indonesia, sampai menteri pun harus marah seperti ini:

Kepada 
Yth Jajaran Pimpinan Kemdikbud

Assalamu'alaikum wr wb

Kemarin saya mampir ke Unit Layanan Terpadu di Gedung C. Saya tuliskan catatan kecil untuk jadi bahan refleksi dan susun langkah perubahan.

Begini ceritanya .....

"Inggih Pak, mboten napa-napa," jawab Ibu Mei. Iya tidak apa-apak Pak. Itu jawabnya saat saya minta maaf atas nama Kemdikbud.

Lalu saya tanya kenapa sampai pergi ke Jakarta.  "Saya ini sudah 59 Pak. Tahun depan pensiun, kalau tahun ini ada masalah saya takut tidak bisa terima uang pensiun," Ibu Mei menjelaskan alasan kenapa ngurus ke Jakarta.

Itu cuma satu dari dua ratusan orang yang datang di hari jumat kemarin. Ibu guru itu bernama Ibu Mei, seorang guru TK dari Kec Mertoyudan, Kab. Magelang. Dia berangkat ke Jakarta ditemani putrinya yang tinggal di Semarang dan seorang staf Dinas Pendidikan Kab. Magelang.

Sesudah jumatan, saya berjalan melewati ULT. Tanpa sengaja, berpapasan lagi dengan mereka bertiga di selasar depan ULT.

Saya tanya apakah sudah beres, lalu putrinya menjawab, "tadi kami diminta oleh petugas ULT utk mengurus ke lantai 13 di Gedung D. Kami sudah ke sana lalu menunggu tapi petugasnya tidak ada."

"Sekarang mau kemana?" tanya saya. Putrinya kemudian menjawab, "kami mau ke Bandara, terlanjur beli tiket PP sore ini." Semua diam. Saya kaget, ya amat terkejut.

Bapak dan Ibu semua, seorang Ibu guru TK yg sudah amat senior dari pinggiran Kab Magelang telah habiskan uang untuk beli tiket pesawat Semarang-Jakarta PP dan terpaksa pulang dengan tangan hampa. Alasannya sederhana: petugas tidak di tempat.

Cukup sudah tempat ini jadi pangkal kekecewaan !!

Saya ajak mereka ke ruangan saya dan panggil petugas GTK untuk membereskan hingga tuntas.

Bapak dan Ibu, ini tidak seharusnya terjadi dan tidak boleh berulang. Saya tegaskan sekai lagi: TIDAK BOLEH BERULANG.

Saya akan ceritakan lagi pengalaman nyata, pengalaman kami yang pernah saya ceritakan pada Ibu dan Bapak sekaian saat kita bicara soal pelayanan pada guru beberapa bulan yang lalu.

Saat itu saya masih duduk di bangku SMA, saya mengantar almarhum Ayah ke Stasiun Tugu di Jogjakarta. Beliau berangkat naik KA Senja Utama ke Jakarta, akan mengurus soal kepangkatannya di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kami sekeluarga melepas dengan penuh harap bahwa kepangkatannya bisa beres. Beberapa hari kemudian, menjelang subuh saya menjemput di Stasiun Tugu lagi. Saat itu diceritakan bahwa urusannya tidak selesai karena pejabat yang berwenang sedang tidak di tempat dan yang lain tidak bisa memutuskan. Ya, sama persis. Pulang kampung dengan tangan hampa. Sebabnya sama: pejabat tidak ada di tempat.

Sekembalinya dari Jakarta, pagi itu juga ayah langsung mengajar lagi. Ruang kelasnya tidak boleh kosong terlalu lama.

Beberapa waktu kemudian, kami sekeluarga mengantar lagi ke Stasiun Tugu. Ayah berangkat lagi ke Jakarta untuk menuntaskan urusan kepegawaiannya, yang pada waktu itu, Beliau sudah lebih dari 25 tahun mengajar.

Bawa kopor dan tas dokumen, berisi semua berkas-berkas penunjang. Di perjalanan pulang dari stasiun, Ibu berguman sambil matanya berkaca-kaca, "Kasihan Abah, jadi korban perubahan aturan". Kami panggil Ayah dng sebutan sunda Abah. Saya tidak ingat detail aturannya tapi kami semua diam sambil berharap kali ini beres.

Datang harinya Beliau kembali ke Jogja. Saya jemput lagi di Stasiun Tugu subuh-subuh. Beliau membawa kabar, tidak bisa. Ikhtiar pengurusan pangkat itu hasilnya nihil.

Saya ingat, kita duduk mengitari meja makan mendengarkan cerita Beliau saat mengurus di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bawa map berisi dokumen, mengantri di ruang tunggu, hingga akhirnya ditemui Sang Pejabat. Detail cerita Beliau. Kita semua jadi geram dan kesal mendengarnya. Di akhir obrolan pagi itu, beliau mengatakan kira-kira begini, biarlah negara tidak mengakui masa kerja ini tapi yang penting ada di catatan Allah.

Hingga akhirnya hayatnya, pangkat Ayah tidak pernah bisa dituntaskan. Ayah  mengajar lebih dari 40 tahun. Ribuan pernah jadi muridnya. Kebahagiannya didapat bukan dari selembar kertas pengakuan negara, tapi dari lembaran surat, kartu lebaran, atau silaturahmi bekas murid-muridnya.

Setiap melihat guru datang ke Kemdikbud mengurus kepangkatan, sertifikasi, NUPTK dll, saya membayangkan mereka kelak pulang ke rumah disomgsong oleh istri, suami dan anak-anak yang berharap dengar kabar baik, seperti keluarga kami dulu. Semua anggota keluarga menunggu kepulangan dengan penuh harap untuk sebuah urusan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Tugas mereka mengajar, mendidik, dan menginpsirasi. Tugas birokrasi pendidkkan adalah memudah mereka bekerja, bukan malah menyulitkan. Cukup sudah. Cukup kementrian ini jadi kontributor permasalahan administrasi tanpa akhir.

Bapak dan Ibu, Laporan dari BKLM tentang jumlah guru yang datang ke ULT Kemdikbud ini jangan pernah dipandang semata-mata sebagai data statistik untuk dianalisa.

Tiap angka itu adalah seorang manusia harapan keluarga. Mereka adalah pilar keluarga. Anak, istri atau suami menunggu penuh harap di kampung halaman. Mereka adalah pejuang yang telah lelah, telah berkeringat di garis depan, di depan kelas utk mendidik anak-anak kita.

Lunasi semua haknya. Permudah semua prosesnya. Manusiawikan kembali proses pengurusannya. Tuntaskan ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Di hari Sabtu siang, renungkan catatan ini. Bayangkan tiap kita berada di posisi para pencari kepastian, para Ibu dan Bapak guru yang datang ke ULT.

Awal minggu depan, saya akan siapkan surat instruksi resminya. Instruksinya: semua unit yang terkait dengan urusan data guru dan seputar pengurusan administrasi guru untuk menyiapkan rencana perombakan total. Penyederhanaan total. Segera siapkan utk menjalankan instruksi 

Jika Bapak dan Ibu menemui kendala, ada yang menolak untuk berubah, ada yang tidak sanggup untuk mensederhanakan proses maka tegur dengan keras dan tegas. Beri aba-aba untuk minggir dari barisan !

Anies Baswedan
Ditulis dlm perjalanan Jkt-Denpasar.

Akhir-akhir ini banyak sekali beredar berita tentang kekerasan yang dilakukan Guru pada siswanya dengan alasan mendidik karena siswa tersebut melanggar aturan Guru atau melanggar aturan sekolah, dan banyak juga Guru yang akhirnya mendekam di penjara, alias dipenjarakan murid-muridnya sendiri dengan alasan melanggar HAM, melakukan kekerasan pada siswa. Dan yang paling ekstrim ada berita Guru yang mencukur siswanya dikarenakan tidak mematahui aturan sekolah dan sudah diperingatkan berkali-kali, berujung pada perlakuan berlebihan orang tua siswa yang mendatangi sang Guru melepas paksa jilbab yang dikenakan, kemudian mencukur rambut sang Guru, banyak siswa suka sekali dengan tawuran, pembunuhan, pemerkosaan, banyak juga oknum Guru yang melakukan hal yang tidak pantas seperti mencabuli siswinya sendiri. dan masih banyak lagi kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang sungguh membuat malu dan mencoreng dunia pendidikan.

Contoh sederhana, zaman dulu seorang siswa ketika mau melewati kerumunan atau tempat dimana ada Guru mereka yang sedang duduk, para siswa cenderung takut, malu, "pekewuh", dan seringkali mengurungkan niatnya untuk lewat didepan mereka, kalaupun terpaksa lewat didepan para Guru, sopan santunpun dimaksimalkan, dengan mengucap, permisi/ nyuwun sewu sambil mbungkuk-bungkuk melewatinya, TAPI..... sekarang, jangankan sopan santun yang dimaksimalkan, malah bahasanya KH. Anwar Zahid extrimnya lewat didepan Guru sambil loncat dan kentut.

Itulah mengapa, siswa zaman dulu ilmu yang didapat akan kembali ke siswa dengan manfaat yang luar biasa, ilmunya berkah dan membuat hidupnya bahagia. Tapi yang terjadi sekarang, kelihatanya banyak mendapatkan ilmu, memiliki banyak ilmu, tapi cenderung tidak mendapatkan keberkahan dalam ilmunya, tidak mendapatkan ilmu yang manfaat, merasa lebih pandai, gampang sekali  membodoh-bodohkan orang lain bahkan gurunya sendiri.

Guru zaman sekarang banyak juga dari hasil mendapatkan ilmu yang tidak berkah, sopan-santun pada guru mereka saat statusnya sebagai siswa, hasilnya sekarang merasa lebih pandai, akhlaknya kurang baik, berakibat pada ilmu yang akan ditularkan ke murid-muridpun tidak memiliki ruh.... tidak sampai dalam hati sanubari sang guru dalam membagikan ilmunya, mengajar hanya mengejar harta dunia, mengajar hanya memenuhi kewajiban pemerintah, supaya tunjangan didapatkan dan kesejahteraan yang akan didapatkan.

=> GURU ZAMAN DULU
  1. Guru sangat dihormati, baik oleh murid-muridnya maupun oleh masyarakat disekitarnya. 
  2. Guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang mulia dan terpandang. 
  3. Setiap guru datang selalu disambut murid dengan bersalaman dan cium tangan dan murid selalu mematuhi apa yang guru perintahkan alias Sami'na Wa Atho'na (Kami Mendengar dan Kami Taat). 
=> GURU ZAMAN SEKARANG
  1. Guru tidak ada bedanya dengan pekerjaan lainnya, yang orientasinya cenderung ke uang-uang dan uang. 
  2. Guru kurang baik akhlak dan kepribadianya,
  3. Guru kurang dihormati siswanya dan tidak dipatuhi perkataanya
  4. .........  (tuliskan pendapat anda di kolom komentar, dan akan saya masukan disini).

Beberapa opini menarik tentang siswa zaman dulu dan siswa zaman sekarang, yang saya ambil dari: https://ideguru.wordpress.com/2010/04/14/membandingkan-perilaku-siswa-dulu-dan-siswa-sekarang:

=> SISWA DULU
  1. Lebih patuh dan hormat kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa menjaga kesopanannya.
  2. Ketika diberitahu/dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
  3. Lebih perhatian kepada guru, jika ada guru yang sakit, langsung berduyun-duyun ke rumah, walau jaraknya jauh, terkadang sampai urunan/iuran untuk membeli oleh-oleh.
  4. Ketika diperintah guru langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah sebelum mengerjakan tugas tersebut
  5. Siswa dulu menganggap guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya, meskipun guru itu kadang keras.
  6. Mengganggap hukuman adalah pelajaran dan konsekwensi dari sebuah kesalahan.

=> SISWA SEKARANG
  1. kurang menghormati guru bahkan cenderung berani
  2. Ketika diberitahu/dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah
  3. Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.
  4. Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua/guru kelasnya
  5. Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas
  6. Kalau dihukum/diberitahu  malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang.
  7. Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan

=> HAL-HAL YANG MEMPENGARUHI KEADAAN MURID SEPERTI SEKARANG
  1. Karena arus informasi dan teknologi, sehingga mempengaruhi pemikiran para siswa
  2. Karena keikhlasan guru mulai luntur, guru sekarang seperti jualan ada uang ada barang, coba kita perhatikan guru dulu diberi berapapun ia tetap ikhlas. hal ini mempengaruhi martabat dan kehormatan guru.
  3. Guru lebih takut pada orang tua, terutama pada sekolah-sekolah yang berbiaya mahal, karena disana ada murid adalah nasabah, sebagaimana nasabah dalam Bank, yang harus dihormati dan dilayani
  4. Kurangnya sifat keteladanan pada guru, murid dilarang merokok, guru merokok, murid dilarang mencontek, guru malah memberitahu dll.
  5. Guru takut pada hukum dan peraturan secara berlebihan, sehingga cenderung membiarkan saja ketika siswanya kurang benar. bahkan kadang guru merasa bingung untuk berbuat ketika salah satu siswanya berulangkali melanggar.

Sebagai tambahan postingan ini, berikut video menarik tentang Guru dan Siswa Zaman Sekarang:

KEPUTUSAN
DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR : 305/KEP/D/KR/201647/D1/KEP/KP/2016
TENTANG
PENETAPAN SATUAN PENDIDIKAN PELAKSANA KURIKULUM 2013
DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH,

Bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 160 Tahun 2013 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengevaluasi satuan pendidikan yang dapat melaksanakan Kurikulum 2013.

Dalam surat keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengahini berisi sekolah-sekolah menengah kejuruan di seluruh Indonesia yang melaksanakan Kurikulum 2013 pada tahun 2016.

  • Download SK No 305/KEP/D/KR/20164 DISINI
  • Download Lampiran SK DISINI

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget

Label